Nafas Panjang dalam Bisnis

Nafas Panjang dalam Bisnis

Bahagia ketika tadi pagi mendengar salah satu sahabat yang merintis usaha property akhirnya “pecah telur”. Setelah berpuasa hampir 3 tahun lamanya.

Saya 2 tahunan yang lalu menjadi bagian tim dari usaha sahabat saya itu, bertiga merintis usaha perumahan. Usaha yang relatif baru bagi kami bertiga, meskipun kami langsung dimentori oleh kakak yang senior dibidangnya.

Secara hitung hitungan matematika, ketika itu usaha tersebut akan segera di eksekusi dan profit. Lahan sudah proses negosiasi dan ada kesempatan pembayaran. Modal awal sudah tersedia, calon pembeli pun sudah ada. Namun ternyata banyak detail bisnis disektor ini yang kami luput, yang menyebabkan proyek tersebut gagal dieksekusi, yakni soal ada ahli waris yang tidak bersedia menjual lahannya.

Proyek pertama gagal dieksekusi akhirnya. berbulan bulan kami mencari lahan dan lokasi baru, sudah puluhan tempat yang kami survey, puluhan rencana bisnis dengan simulasi siteplan dan cash flow yang kami buat, namun belum juga ada angin segar. Akhirnya karena setahun belum ada cash flow yang lancar, saya mundur dari tim, ternyata nafas saya kurang panjang.

Sehingga kabar tadi pagi atas sahabat saya, bagi saya seperti angin segar ditengah merintis bisnis yang belum pecah telur.

Bicara soal merintis suatu bisnis memang membutuhkan nafas yang panjang. Banyak bisnis yang belum menemukan titik keseimbangan baru untuk tumbuh, namun ditengah jalan kehabisan nafas. Alias kehabisan uang cash yang semestinya digunakan untuk menyuntikkan aliran darah kedalam bisnis.

Banyak juga dalam bisnis yang sudah lama, namun nafasnya juga masih teesenggal senggal. Gali lubang tutup lubang. Beruntung kalau owner-nya punya kantong yang cukup dalam, sehingga bisa menambal kekurangan. Namun kalau pas Pasan ada yang rela bertahan walaupun kehabisan nafas.

Ada bisnis yang tipe cash cow, alias sapi perah bagi bisnis lainnya. Sehingga ketika satu bisnis kehabisan nafas, dibisnis atau tempat yang lain yang profit sebagai sapi perah untuk menutupi bisnis yang nafasnya mau habis tersebut.

Memulai bisnis ibarat berlari maraton, harus terus kontrol nafas dan atur kecepatan hingga ke garis finish. Bukan hanya seperti sprinter.

Kebanyakan bagi usaha skala UMKM, daya tahan bisnis sangat tergantung dari owner atau timnya. Maka sebelum memperbaiki kondisi bisnis untuk bisa memiliki nafas yang yang panjang sangat dipengaruhi dari kapasitas orang dibaliknya.

Belajar dari banyak kegagalan kegagalan dahulu, maka dibisnis yang baru kami rintis ini kami mulai dari kecil dahulu, dengan modal sendiri yang terbatas. Dan biarlah tumbuh dulu secara organik. Nikmati segala prosesnya, atur nafas pelan pelan, ciptakan arus kas positif dahulu, bila sudah ketemu titik kesetimbangannya maka Insya Allah kami akan siap untuk melompat dan berlari cepat.

#nafaspanjang
#businessendurance
#umkm

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *