Menemukan Pola Bisnis

Menemukan Pola Bisnis

Namanya Mansur. Ya hanya Mansur. Meskipun belakangan ditambah dengan nama Mansur Affandi. Penambahan nama ini juga dilakukan ketika masuk kuliah. Biar kelihatan panjang katanya. Maklum doi dari desa Batang batang Sumenep Madura. Satu kampung dengan Budayawan Kawakan DR (HC) Zawawi Imron.

Saya pernah ke rumahnya yang berada di desa ujung pulau Madura. Yang kalau kesana dari terminal Wiraraja harus naik becak dulu ke pangkalan taksi (sebutan angkutan desa) menuju arah ke Dungkek. Itupun menjelang malam sudah tidak ada Taksi yang kesana.

Cerita tentang taksi ini saya simpan dulu karena diawal dia ke Surabaya menjelang kuliah dia pernah tertipu oleh Tukang Taksi diterminal Bungurasih karena menganggap Taksi di Surabaya berbeda dengan Taksi di Kampungnya.

Cukup lama saya mengenal doi, karena hampir tiga tahun pernah tinggal di Asrama bareng, diawal kuliah juga naik sepeda ontel boncengan bareng. Dengan jarak hampir 30 km dari arah Kupang menuju Wonocolo, nyaris setiap hari bergantian boncengan.

Saya ingin cerita sedikit tentang pengalaman bisnisnya hingga sekarang menemukan polanya. Kalau dihitung mungkin sudah puluhan bisnis dia lakukan. Prinsip awalnya simple, karena kepepet dan yang penting bisa menghasilkan uang. Apapun dia jual, bahkan dia bisa jual keahlian temannya. Belajarnya otodidak, bukan belajar dari kelas bisnis atau seminar seminar.

Pernah suatu ketika dijaman internet marketing Ana Ahira dia bisa berjualan berkoli koli sandal ke luar pulau. Ketika zaman internet belum booming. Modalnya hanya sebuah blog gratisan. Karena jualannya rame untuk menarik kepercayaan pembeli dia buka kios di DTC. Brandingnya simple yakni Grosir Sandal.

ketika itu cukup berkembang, dan agresif membuka bisnis lainya. Dia buka Jasa Pijat juga di DTC. Modal bisa pasang iklan di internet dia jadikan keunggulan. Banyak yang melamar. Tesnya cukup sederhana, kalau pelamar bisa pijat dirinya, ia akan rekrut.

Usaha grosir sandalanya dia kembangkan menjadi grosir baju. Hingga buka cabang dengan sewa tempat di ITC. Ketika itu dia berfikir untuk terus membuka bisnis lain dan mengembangkan. Sebaliknya justru ini menjadi titik balik kebangkrutan bisnisnya.

Karena model fashion terus berkembang dan biaya operasional di Mall tinggi, akhirnya bisnis sandal dan bajunya gulung tikar. Disusul bisnis pijatnya yang ditipu karyawan.
Kembali dari nol dia mulai bisnisnya. Kali ini memafaatkan suatu kampung bekas tempat KKN masa kuliahnya dulu. Dia melihat dikampung itu banyak pohon pisang yang daunnya belum dimanfaatkan, akhirnya dia cari potensi pasar untuk jual ke Surabaya.

Surveylah dia ke pasar pasar di Surabaya, sasaran pasarnya langsung pedagang pracangan. Dengan keahlian komunikasinya akhirnya jadilah ia supliyer daun pisang. Entah kenapa bisnis ini tida berjalan lama yang kemudian dia berganti menjadi bisnis bimbingan belajar, buka warung sampai ke beberapa bisnis lainnya yang kemudian saya dengar akhirnya ditutup.

Setahun setengah yang lalu ketika ngopi, dia memulai bisnis barunya kali ini dia sangat optimis usaha ini akan berkembang dengan cepat. Karena resikonya kecil dan nyaris tanpa modal katanya. Ia juga memanfaatkan media social facebook dan Istagram. Dia sudah memulainya dan Alhandulilah ada order. Ketika itu saya cukup senang mendengarnya. Karena begitu cepat dia bisa bangkit dan memulai kembali usahannya. Sementara banyak teman teman saya sendiri yang ketika membuat rencana bisnis ketika kita bahas begitu antusias, namun ketika ketemu lagi rencana bisnisnya tidak pernah dijalankan. Hanya berhenti di rencana dan rencana.
Beberapa waktu yang lalu saya mampir ke kiosnya, disebuah pasar tradisional yang baru dibuka dan diresmikan oleh Ibu Risma. Ceritanya kios ini hanya untuk display, sebenarnya ordernya 90 persen lebih dari online. Karena kebetulan ia warga setempat dan dibangun pasar oleh pemerintah kota, eman saja kalau tidak diambil peluangnya. Nanti bisa dibuat untuk jualan lainnya.

Sekarang ia kembali tertawa lebar. Kerugian bisnis bisnis yang lalu rasanya sudah tertutup dengan usaha ini. Bisnis yang uang cashnya lebih cepat. bahkan orang akan bayar dahulu baru dikerjakan. Itupun antrinya sampai dua bulan kedepan sudah full order. Orderan nyaris dari semua propinsi di Indonesia.

Dengan memanfaatkan social media dan iklan sosmed yang sangat murah. Hanya 200 ribuan sebulan bisa mendatangkan omset puluhan juta sebulan. Yang menarik, gross profitnya lebih dari 60% dari omset. Dan dia kwalahan dengan order yang masuk selama ini dan masih membatasi sehari hanya mengerjakan 4-5 pcs untuk menjaga kualitasnya.

Pola Bisnis

Tidak jarang kita melihat teman kita kok cukup sukses menjalankan bisnisnya. Terlihat seolah olah bisnisnya terus berkembang. Hidupnya pun mengalami peningkatan. bisa jalan kemana mana seolah olah bisnisnya terus jalan, orangnya jalan jalan.

Semua terlihat begitu mudahnya.
Ya yang tampak dipermukaan terkadang mudahnya saja, namun dibalik itu tentu kita tidak tahu bagaimana dia merintisnya dengan kerja keras. Tidak sedikit daribawah. Berapa banyak bisnis sebelumnya yang mengalami kegagalan.

Ditipu pun sudah berkali kali mungkin dialaminya, serta bagaimana sikap mental dia didalam membangun bisnisnya yang penuh dengan keringat dan air mata.

Jadi jangan dilihat kesuksesan hari ini semata. Namun lihatlah bagamana perjuangan untuk meraihnya. Jujur saja sampai hari ini pun pribadi penulis masih berupaya untuk menemukan pola keberhasilan itu dan semoga siapapun yang sedang merintis dan membangun usahannya segera menemukan polanya.

Buat teman teman yang sedang butuh mahar unik bisa lihat IG : Maharpernikahan.unik

Sharing sharing lainnya cek di www.cakfahmi.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *