KONSUMEN BERUBAH ?

KONSUMEN BERUBAH ?

Dalam suatu percobaan, para peneliti memasukkan orang orang dalam sebuah ruangan, yang mana dalam ruangan tersebut dihembuskan asap. Pada sebagian besar kasus, orang dengan kesadaran sendiri melaporkan kondisi tersebut. Namun sebaliknya, ketika melihat orang yang bersama mereka bersikap denial atau biasa saja tidak merespon dengan khawatir keadaan darurat tersebut, orang orang tersebut yang semula menganggap asap tersebut bahaya, akhirnya  menganggap bahwa asap itu bukan pertanda bahaya.

Tampaknya penelitian tersebut seperti yang dirasakan hari hari ini. Pada awal awal pandemi Covid-19 terutam di akhir maret, situasi tampak begitu mencekam, namun lambat laut semakin melonggar.

Kalau diukur skala berapa ketakutan anda diawal awal wabah ? sebagian besar pasti menjawab diangka 7 keatas. Namun coba hari ini pertanyaan yang sama tersebut anda tanyakan ke sebagian besar orang, maka mungkin jawaban terbanyak diangka moderat tenggah tengah bahwa cenderung dibawah 5.

Inilah yang menjelaskan bahwa ternyata alam bawah sadar kita tidak berdiri secara independen. Dan diri kita cenderung besar untuk meniru apa yang orang lain lakukan. Itulah kenapa dalam sebuah launching produk baru ataupun bisnis baru, maka keberhasilan untuk mendatangkan trafik atau keramaian pada saat pembukaan menjadi sangat penting, karena akan menjadi penanda bahwa pembukaan bisnis baru tersebut benar benar akan diminati oleh konsumen.

Sehingga tidak sedikit gimmick atau strategi marketing yang dilakuan untuk melaunching sebuah produk baru agar langsung laris diserbu oleh pelanggan, meskipun sebenarnya anda tidak sedang membutuhkan produk tersebut.

Strategi tersebut sama seperti kenapa ketika kita lewat dijalan dan melihat orang orang pada antri disebuah outlet misalnya, maka secara alam bawah sadar kita pasti penasaran kira kira apa yang dijual dioutlet tersebut ya ? dan tidak sedikit kita ikut ikutan untuk mengantri outlet tersebut.

Jadi mengapa hari ini meskipun sedang diterapkan PSBB pasar tetap rame, rumah makan masih rame dan warkop warkop pun tetap ramai, meskipun pemerintah sudah mewanti wanti untuk dirumah saja, jaga jarak dan sebagainya tidak lain karena orang orang melihat bahwa ketika dia keluar rumah ternyata jalan masih rame, warung masih rame sehingga dia akan berkompromi dengan dirinya bahwa sepertinya kondisi sudah mulai  normal.

Kembali pada kontesk ini kalau hari ini kita berfikir bahwa omset kita drop, tidak ada penghasilan karena yang biasa bermain di level offline, even even pada di cancel. Sudah saatnya melihat kembali, ternyata meskipun mungkin pendapatan terputus, namun ingat kembali rezeki tidak akan pernah terputus.

Sepertihalnya sebuah hukum kekekalan energy yang menyatakan bahwa energy tidak dapat diciptakan dan dimusnahkan, namun energy akan berubah dari satu bentuk energy ke energy lain. Maka sebenarnya konsumen tetap akan melakukan kegiatan konsumsi. Hanya saja perilakunya berubah dari satu bentuk ke bentuk lainnya sesuai dengan kondisi saat ini.

Tinggal bagaimana kita memahami perubahan perilaku ini dan memanfaatkannya untuk mengubah cara jualan produk dan layanan kita sehingga tetap relevan dengan kebutuhan konsumen.

Pengalaman saya dua minggu awal ketika Work From Home istilahnya, padahal sebenarnya sudah lama ndak ngantor he..he.. kelihatannya tidak bisa ngapa nggapain untuk profesi saya yang terbiasa untuk melakukan traveling didalam pekerjaanya. Di awal awal rasanya rencana yang sudah disusun ambyar semua. Project  pada cancel dan beberapa kegiatan dibatalkan.

Namun bersyukur akhirnya menemukan kondisi new normal.  Beberapa project yang awalnya offline akhirnya menyesuaikan bisa dikerjakan secara online. Sisi positifnya ternyata lebih mudah dan efisien dibandingkan secara offline. Kalau dulu sehari mungkin hanya bisa menghandle satu kali trining misalnya, dengan online sangat dimungkinkan bisa menghandle 2 bahkan 3 training. Jauh lebih murah dan efisien.

Covid-19 telah merevolusi perilaku dari konsumen lebih masif dan lebih cepat dibandingkan dengan situasi yang berjalan  normal. Tinggal bagaimana kita terus berggerak menemukan kembali new normal tersebut.

Karena tampaknya cara masyarakat dalam merespon kondisi hari  ini sudah jauh berubah dibandingkan dengan kondisi awal. Seperti dalam penelitian yang disebutkan diatas. Lambat laun tampaknya situasi mulai berubah.

Sehingga kemudian tidak salah  muncul istilah disebagian besar kalangan kalau kemarin kita berperang melawan covid-19, maka hari ini suka tidak suka, mau tidak mau, kudu siap berdamai dengan covid-19.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *