KEPASTIAN DITENGAH KETIDAKPASTIAN

KEPASTIAN DITENGAH KETIDAKPASTIAN

Tidak ada yang tahu kapan pandemic Covid-19 ini berakhir. Demikian yang disampaikan oleh Accenture Indonesia, sebuah perusahaan global konsultan manajemen dalam sebuah diskusi online yang saya ikuti kemarin.

Memang banyak yang memberikan prediksi puncak pandemic ini di Indonesia pada bulan puasa demikian awal yang disampaikan BIN, kemudian ada sebuah sumber yang menyatakan di bulan Mei, Agustus, bahkan ada salah satu pakar ekonomi yang juga menyarakan pada bulan September.

Namun melihat situasi hari ini yang menyebutkan kemarin ada pelonjakan jumlah pasien, rasanya lebih baik kita tidak perlu melihat kurva yang dipublikasikan. Toh juga tidak tidak berdampak apa apa terhadap kondisi kita hari ini.

Dalam status status saya sebelumnya memang saya cenderung untuk lebih baik bersiap dengan kondisi terburuk daripada kita berharap ada keajaiban diluar kemampuan kita bahwa dalam waktu dekat keadaan akan berubah.

Itu sama seperti ketika kita tidur kemudian bermimpi buruk, dan tiba tiba terbangun gelagapaan dan bersyukur ternyata hanya mimpi. Ini berbeda. Kejadikan ini bukan mimpi namun realitas yang terjadi dan kita alami saat ini.

Ada yang menarik ketika saya berbicara dengan para pelaku usaha baik skala mikro kecil maupun menengah. Bila diawal pandemic, mereka cenderung untuk menyalahkan keadaan, termasuk menyalahkan berbagai kebijakan yang sangat mempengaruhi bisnis mereka yang membuat omset menjadi drop bahkan nol.

Pada masa ini mereka sebagian besar menyadari dan menerima keadaan dan sudah melakukan kegiatan kegiatan bisnis untuk survive.

Dalam kondisi ini teori dan jurus jurus umum tentang bisnis sudah tidak berlaku lagi. Mungkin sudah banyak webinar bisnis yang diikuti, namun sepertinya semakin banyak tips tips yang di dengar, mungkin malah membuat semakin bingung.

Saya jadi ingat ada area dalam diri kita yang bisa kita kuasai. Ada area yang tidak bisa kita kuasai. Hari ini fokuslah pada area yang kita kuasai dan bisa kita dilakukan, walaupun sekecil apapun itu.

Inilah insting usaha mikro kecil. Dalam suasana ketidakpastian ini usaha mikro kecil justru lebih gesit untuk mencari celah celah peluang bisnis, mengeksekusi dengan cepat.

Tentunya berbeda dengan perusahaan besar yang sudah punya core bisnis untuk shifting membutuhkan waktu dan sumberdaya yang relative besar.

Usaha mikro kecil telah terbukti tahan terhadap krisis ekonomi 1998. Namun krisis yang dipercepat karena Covid-19 ini usaha mikro kecil yang paling awal terkena dampak akibat pembatasan gerak. Kampung kampung yang melakukan lockdown penutupan portal, terbatasnya jam buka pasar, PSBB dan perkantoran maupun sekolah dan kampus yang ditutup tentunya sangat memukul usaha mikro kecil.

Namun ada satu hal yang tidak bisa mengalahkan usaha mikro kecil, yakni semangat bertahan hidup. Itulah kekuatan utama usaha mikro kecil. Karena sebagian besar mereka bisnis menjadi pilihan hidup , setelah sector sector formal tidak bisa dimasuki. Dan mereka tidak mengandalkan lapangan kerja yang dibuka oleh negara.

Seperti yang dilakukan oleh Siti Hajar menggendong Nabi Ismail ditengah padang yang tandus mencari sumber air. Meskipun harus bolak balik 7 kali antara Shafa dan Marwah. Akhirnya dikabulkan oleh Allah dengan munculnya sumber air zam zam bukan oleh Siti Hajar, namun oleh kaki kaki kecil Ismail yang menginjakkan tanah.

Sehingga mengambil ibrah dari kisah Siti hajar. Sudah saatnya kita mulai berfikir dengan cara berfikir bahwa pandemic ini tidak tahu kapan akan berakhir, yang penting terus berikhtiar,  ditengah ketidakpastian yang ada, Insya Allah akan menemukan jalan menuju kepastian.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *