Hidup Semurah Mungkin

Hidup Semurah Mungkin

Kakek saya seorang Modin kampung, setiap hari dan setiap malam ada saja kondangan ataupun tahlilan. Jadi sejak kecil, barokah dari kondangan, nenek masak cuma sedikit dan kami sekeluarga bisa dikatakan untuk kebutuhan konsumsi harian besar dari sana.

Setelah kakek almarhum, bapak saya diangkat menjadi moden. Tradisi makan dari kondangan Alhamdulillah berlanjut kembali. Pun karena tinggal di sebuah kampung nelayan, hampir tiap hari ada saja tetangga yang mengantarkan ikan sehingga sangat jarang beli lauk.

Dilingkungan kami, antar mengantarkan ke tetangga seperti menjadi tradisi. Kalau orang Madura istilahnya Ter Ater. Ketika pohon jambu kami berbuah lebat, tetangga tetangga pasti kebagian. Pun ketika tetangga pulang dari melaut, hampir selalu ada ikan yang disisipkan untuk tetangga yang bukan nelayan.

Pun ketika harus kuliah di Surabaya, tepatnya di Kupang Panjaan. Bagi kami kalau ada beras, rasanya separuh kebutuhan hidup sudah aman. Kami tinggal urunan 500 perak dengan kawan kawan seasrama untuk membeli lauk. Kalau pun tidak ada yang mau urun uang segitu bisa buat beli kerupuk dan kecap di Bu rohima warung tetangga kami untuk menyambung hidup di Surabaya.

 

Ya cerita tadi mungkin sama dengan cerita kawan kawan yang tinggal di desa. Di desa yang punya sawah, urusan sebagian. kebutuhan sudah selesai. Untuk sayur sayuran bisa ambil dari daun daun di pekarangan seperti daun kelor, daun singkong muda maupun kangkung dan bayam yang banyak tumbuh liar.

Pun makan tidak harus nasi, ada singkong yang bisa ditanam. Ada jagung maupun tela yang bisa dibuat campuran nasi. Tanah kita subur, apapun bisa ditanam tidak harus membeli.

Pun yang tinggal di kampung nelayan, ikan juga mudah dan murah di dapat. Yang punya keluarga nelayan, tetangga nelayan juga tidak akan membiarkan ada yang kelaparan karena tidak ada yang bisa dimasak. Hanya menyediakan beras, lauk ikannya seperti rezeki yang sudah diantarkan dari langit.

Jadi ditengah pandemi ini, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Pendapatan bisa jadi jauh berkurang, namun rezeki pasti sudah ditetapkan.

Insya Allah masih banyak orang orang yang mau berbagi. Pun itu di balik beton beton gedung bertingkat, dibalik perumahan yang temboknya tinggi memutar. Di pinggiran bantaran sungai, maupun dikampung kampung yang nyaris tidak ada sekat tembok.

Bila masih ada tetangga yang tidak ada yang bisa dimasak besok, bisa jadi menjadi dosa kita yang tidak peduli dan tidak mau tahu.

Karena sebenarnya hidup bisa semurah mungkin, hanya saja Gaya Hidup kita yang membuat hidup menjadi Mahal.

Itulah kenapa rahasia ini yang membuat orang orang dulu bisa punya asset yang banyak. Sawahnya luas luas, rumahnya luas dan besar. Pun orang nelayan mereka bisa punya banyak perahu.

Padahal mereka tidak punya pekerjaan yang tetap. Sebagian besar hanya sebagai petani, nelayan maupun pedagang. Kalaupun menjadi pegawai mereka juga tetap mempunyai sawah atau kebun. Tak lupa juga hewan ternak, sebagai pemakan limbah limbah pertanian yang ada di sawah atau ladang.

Pagi berangkat ke sawah membersihkan gulma, menjelang siang sudah kembali pulangg dan membawa sekeranjang rumput sebagai pakan hijauan bagi kambing atau sapi di kandang.

Dari hewan ternak mereka kumpulkan. Bila ada ladang atau sawah yang dijual dengan harga yang relative terjangkau mereka membelinya. Dari hasil jual sapi atau kambing. Demikian mereka putar terus menjadi sebuah asset yang produktif.

Begitupula para nelayan. Dulunya mereka bisa menyimpan hasil tangkapannya. Sebagian dikeringkan untuk digunakan ketika musim angin tiba, yang membuat mereka tidak bisa melaut.

Hasil melautnya mereka simpan. Untuk diwujudkan perhiasan. Setelah terkumpul di belikan kembali perahu ataupun sebagai perbekalan untuk nelayan lainnya. Seperti jaring atau mesin perahu, yang kemudian mereka mendapat hasil dari sana tanpa harus perlu kembali ke laut. Sebagai sebuah penghasilan pasif dari asset yang mereka putar.

Mereka cukup untuk makan dari apa yang ada. Kalau hari itu misalkan hanya ada tahu ataupun tempe, dengan sambal dan sedikit ikan asin menjadi sebuah masakan yang nikmat. Begitupula nelayan. Mereka bisa makan yang mewah seperti yang orang kota beli di restoran restoran mahal.

Hasil tangkapan cumi cumi, rajungan bahkan ikan kerapu atau kakap hasil dari melaut menjadi makanan sehari hari yang cukup dengan sambal menjadi nikmat tiada tara. Tanpa banyak bumbu karena memang ikan sudah segar.

 

Kalaupun hari itu hanya mendapatkan ikan kuniran ataupun golok sambarang, ikanikan payang yang murah meriah itupun sudah sangat nikmat tiada duanya.

Ya hidup semurah mungkin. Prinsip hidup yang nriman, namun bukan bermalas malasan. Hidup sederhana untuk membiayai masa depan anak cucunya. Itulah kenapa semakin banyak anak, orang dulu sudah menyiapkan rumah terkadang untuk setiap anaknya.

Mereka sudah jauh memahami arti kata investasi. Padahal mereka tidak pernah ikut kelas kelas investasi yang berbiaya mahal. Mereka sudah fahan mana asset produktif mana liabilititas, padahal mereka tidak pernah membaca buku buku Robert Kiyosaki. Mereka sudah memahami pasif income maupun income generation, padahal mereka tidak pernah bergaul dengan para pebisnis maupun pengusaha besar.

Mereka hanya menerapkan satu jurus sederhana. Hidup semurah mungkin, Mungkin mereka tidak memegang uang, namun  bisa tersenyum karena sawah dan ladang masih hijau, masih ada yang akan dipanen di hari esok.

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *