EKUILIBRIUM

EKUILIBRIUM

EKUILIBRIUM

Mohon ijin kepada para suhu ekonomi kalau sedikit menyinggung soal teori keseimbangan atau dalam Bahasa ilmiahnya dikatakan teori ekuilibirum. Saya tidak sedang membahas tentang teori market ekuilibrium secar detail. Karena saya bukan lulusan ekonomi.  Jadi kalau ada sedikit ngaco ngaconya semata mata kesalahan dari saya.

Sederhananya teori ekulibrium atau keseimbangan pasar adalah adalah suatu kondisi di mana jumlah barang yang ditawarkan sama dengan jumlah barang yang diminta. Jadi pada titik ini harga cenderung stabil. Pada titik ini tidak ada kecenderungan perubahan harga (harga cenderung tetap). Apabila digambarkan ke dalam grafik, titik keseimbangan adalah titik perpotongan antara kurva permintaan dengan kurva penawaran.

Saya cuma mau memotret kondisi hari ini perspektif pendekatan ini. Ilustrasinya begini.

Para peternak ayam pedaging dan petelur di Blitar sekitarnya hari ini menjerit luar biasa. BEP (Break Even Point)  telur misalnya untuk biaya pakan, obat dll perkilo dikandang seharga 15 – 17 ribu sekilo. Sementara harga telur hari ini di kandang hanya dihargai sekitar 13 ribu sekilo, bahkan ada yang 10 ribu sekilo. Apa tidak ambyar tuh peternak. Perkilo harus menanggung kerugian sekitar 3000 rupiah perkilonya.

Jumlah peternak di Kabupaten Blitar sekitar 4.420 peternak, dengan jumlah produksi di kisaran 1200 ton per hari. Silahkan dihitung sendiri berapa kerugian peternak saat ini ? belum lagi peternak di daerah lainnya.

Ada banyak factor yang menyebabkan tidak seimbangnya antara permintaan dan penawaran ini. Salah satu yang kasat mata adalah karena stok telur yang melimpah sementara terdapat kendala distribusi akibat dampak dari Covid-19 seperti PSBB maupun banyak industry kuliner dan rumah makan yang tutup.

Itu baru telur, belum daging ayam, kemarin juga sempat ramai soal gula pasir yang naik gila gilaan maupun komoditas lainnya. Intinya adalah ada ketidakseimbangan antara penawaran dan permintaan ditengah wabah covid-19 ini.

Intervensi  Negara

Ditengah situasi sulit ini setidaknya ada dua hal yang harus dijaga negara. Pertama pemerintah harus menjaga pasokan pangan bagi warga negara, karena ditengah situasi pandemic ini sepertinya akan sulit untuk melakukan impor. Negara negara lain juga menjaga pasokan pangannya untuk memenuhi kebutuhan negaranya.

Kebutuhan protein dan pangan yang layak dalam situasi ini sangat dibutuhkan. Jangan sampai mendengar lagi ada warga negara yang kelaparan karena tidak ada pekerjaan maupun penghasilan karena wabah.

Kedua, sepatutnya negara juga melindungi petani, peternak maupun usaha mikro kecil untuk dapat menjaga kelangsunan usahannya ditengah pandemic yang tidak pasti ini. Bukan sebaliknya menyerahkan sepenuhnya mekanisme pasar yang akan membunuh secara brutal para peternak peternak kecil di negeri ini.

Saya rada emosi menulis ini namun faktanya demikian. Ketika harga minyak dunia anjlok di titik terendah, Perusahaan Negara sepertinya minta sumbangan warga negara dengan tidak menurunkan harga BBM nya. Namun ketika harga minya dunia naik tinggi, tidak butuh lama harga BBM akan terkoreksi.

Bila urusan BBM negara mengintervensi  harga BBM di pasaran, kenapa soal harga telur, daging ayam dan komoditas pangan lainnya, sepertinya negara tidak mempunyai kuasa atas rakyatnya ?

Padahal para pakar dan tim ekonomi negeri ini adalah orang orang terbaik yang memahami teori  ekuilibrium tersebut. Yang dibutuhkan adalah titik keseimbangan pasar saja yang disatu sisi masyarakat bisa mendapatkan harga yang layak, peternak dan petani bisa tetap tenang untuk bertani dan beternak.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *