DARI KERNET TRUK MENJADI JURAGAN KRIPIK BUAH

DARI KERNET TRUK MENJADI JURAGAN KRIPIK BUAH

Saya teringat obrolan beberapa waktu yang lalu dengan salah seorang sahabat dari Kota Batu. Ya tepatnya dia adalah salah seorang konsultan UMKM di salah satu pusat layanan usaha terpadu. Namun aslinya dia adalah seorang pengusaha kripik buah dengan brand Kripik Buah Ramayana yang kalau teman teman berkunjung ke kota wisata Batu, produknya bertebaran di pusat oleh oleh di Batu dan Malang Raya.

Kebetulan project kami di Kota Batu baru saja berakhir, saya minta ijin mas Bro Mashudi untuk menulis sedikit ceritanya dalam membangun bisnis kripik buah, yang menjadi salah satu pionir produk kripik buah pada waktu itu.

Ya karena dia memulai usahanya sudah hampir 13 tahun, disaat kripik buah belum cukup dikenal dan diterima masyarakat. Hitung hitung semoga memotivasi teman teman yang memulai usaha dari level yang paling mikro.

Jangan dilihat dari penampilan bro mashudi hari ini, yang kalau mau jujur menjadi salah seorang pendamping UMKM terkeren ha..ha.. tapi lihatlah bagaimana dia membangun usaha kripi buahnya yang membutuhkan perjuangan dan semangat pantang menyerah.

Cukup menarik pendekatan kerja yang dia lakukan. Kalau kebanyakan sekarang kan banyak profesi pendamping atau konsultan bisnis ya memang itu menjadi profesi utamanya. Namun berbeda dengan dia, justru profesi yang sudah disandangnya 3 tahun terkahir sebagai konsultan UMKM adalah profesi untuk berbagi dengan UMKM untuk meningkatkan skala bisnisnya.

Baiklah saya rangkum ceritanya seperti ini

Memulai Riset Produk Kripik Buah

Sembari bekerja sebagai kernet truk, Mashudi mencoba peruntungan dengan membuat kripik dari buah apel. Kebetulan buah ini mudah didapatkan di Batu. Lebih dari setahun riset dilakukan, namun masih sering mendaatkan warna kripik menghitam. Namun ia tetap berusaha menjual di lingkungan sendiri, untuk mendapatkan respon dari pasar. Dari sisi rasa kripik buahnya cukup lumayan, namun dia masih menyesalkan produknya tampilannya belum bisa cerah.

Hingga akhirnya dalam sebuah pelatihan HACCP ia mendapatkan saran yang cukup memuaskan, warna kripiknya bisa dipertahankan dengan menambahkan vitamin C dari air jeruk lemon. Dan ia menggunakannnya hingga saat ini dan melarang produknya dicampur dengan bahan kimia.

Ya, iya memulai usaha ini sembari tetap bekerja untuk mencukupi kebutuhan sehari hari sebaga kernet truk yang kirim sayur dan buah ke Banyuwangi. Sambil terus melakukan riset dan memperbaiki produknya hingga akhirnya benar benar siap untuk dipasarkan secara luas.

 

 

Membangun Pasar

Tentu tidak secara tiba tiba produknya bisa diterima oleh pasar. Ia mengawalinya dari 11 toko kecil di Selekta setelah melakukan pengamatan pasar. Akhirnya dipilihlah pedagang oleh oleh dengan system awal kongsinasi. Awal memulai banyak pedagang yang tidak lancar dalam melakukan pembayaran, hingga akhirnya konsignasi dengn tertarget. Dari 11 toko dipilih lagi yang pembayarannya mudah.

Memulai pertama dari 48 bungkus kripik. Seminggu habis dan pola itu dibangun dalam setiap pasar. Mengawali usaha hanya mendapatkan omset 200 rb seminggu, itu belum laba bersihnya.

Tentu dengan penghasilan yang hanya sebesar itu  hampir membuat dia putus asa Namun dengan penuh ketekunan, usahanya terus dikembangkan dengan menambah varian produk  dan rasa sebagai inovasi untuk meningkatkan penjualannya.  Omset yang semula hanya ratusan ribu  berkembang menjadi 1,5 jt perbulan, 5 juta, 8 juta terus berkembang hingga milyaran perbulan,

Berkembang secara alami tanpa Bank

Modal yang ia keluarkan untuk memulai usaha hanya 5 juta untuk membeli vacum. Bahkan ia pernah salah membeli mesin pendingin, yang seharusnya digunakan untuk membeli freezer ia gunakan untuk membeli mesin pendingin es krim, tentu saja mesin itu tidak bisa digunakan.

Ketika usahanya dimasa masa awal membutuhkan suntikan modal, ia jual motor vixion dan  perhiasan istri untuk menambah modal. Mulai mengembangkan dodol dengan varian dodol nangka, sirsak.

Begitupula untuk meningkatkan kapasitas produksi ia terpakssa pindah pindah hingga 5 kali tempat produksi.  Hingga akhirnya bertekad harus punya tanah dan tempat produksi sendiri yang representatif.

Akhirnya ia membeli tanah dengan luas  430 meter persegi seharga 73 juta kepada rekannya dan dicicil setahun hingga 2010 rencana membangun tidak cukup uang.

Dengan modal 30 juta membangun temat produksi , mulai mengumpulkan modal sedikit demi sedikit dari menyisihkan keuntungan sehingga akhirnya berhail membeli mesin kripik dengan nilai investasi 160 juta dengan mesin kapasitas 100 kg/jam. Target dia sederhana dengan membaca peluang pasar,  1 tahun balik modal. Namun dalam hitungan 6 bulan sudah balik modal, dari sana mulai menata terus kapasitas produksinya hingga mencapai 12 ton kripik perbulan.

Prinsip bisnisnya berkembang alamiah tanpa hutang, pernah pada tahun 2015 ia bermaksud membeli tanah namun kurang 260 juta sehingga pernah berinsiatif untuk pinjam ke Bank , ternyata ketika proses transaksi tidak sampai 2 minggu dia punya uang untuk langsung menutup kekurangan. Akhirnya dia batal untuk meminjam kepada bank. Dari situ dia sudah tidak meminjam ke bank dan berfikir buat apa kredit ? menurutnya kembali lagi kepada persoalan gaya hidup, lebih tenang kalau tidak punya hutang ujarnya.

 Membangun Plasma

Ternyata ketika usaha sejenis sedang turun, sebaliknya justru ia merasakan terus meningkat dan tumbuh usahanya. Ternyata salah satu rahasianya adalah dengan membangun plasma.

Ya dengan membangun plasma, akan semakin membuka peluang usaha orang lain. Dan rezeki akan lewat melalui banyak orang karena membuka pekerjaan kepada banyak orang.

Hingga saat ini ia mempunyai 9 plasma di Malang Raya, terutama untuk produk kripik apel. Untuk plasma yang di Malang rata rata modal sendiri tinggal dibuatkan SOPnya.

Akses pasar full dari pusat, untuk biaya produksi kita hitungkan. Ternyata rezki dilewati orang banyak sehingga lebih berkah.

Ya, Saya yang mendengarkan ceritanya cukup terharu dan yakin, bahwa kerja keras dan semangat berbagi hasil akhir tidak akan membohongi. Sehingga sangat wajar Berbagai kemajuan dan prestasi berhasil diraih Mashudi dan Ramayana Agro Mandiri, yang akhirnya mengantarkannya menjadi salah seorang dari tiga finalis Social Entrepreneur of The Year dari EY (Ernst & Young) pada tahun 2014 kemaren.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *