Belajar Dari Orang Kaya

Belajar Dari Orang Kaya

Ini obrolan sederhana beberapa malam yang lalu dengan juragan bengkel di waroeng #zokar. Kebetulan bengkelnya tepat di sebelah warung kami.

Kalau saya pribadi sering bertemu dengan mas Bambang ini, begitu ia dipanggil. Namun ngobrol gayeng baru malam itu terjadi.

Kami mengawali dengan obrolan yang ringan ringan dahulu seputar asal daerah, ternyata masnya berasal dari Kertosono. Obrolan berlangsung seputar wirausaha.

Menariknya mas Bambang ini bertahun tahun dulu pekerjaannya adalah sopir. Sopir taksi tepatnya, dan sering juga diminta menjadi sopir orang orang yang ” kaya” Beneran.

Ketika saya tanya apa yang dimaksud dengan orang “kaya” ini ? Beliau menjelaskan orang orang ini hidupnya sederhana, tampilannya juga sederhana namun sering ketika mensopiri beliau, ia loyal dalam hal kuliner suka kulineran istilahnya dan setiap kuliner akan mengajak banyak orang dan habis ratusan ribu bahkan jutaan sekali makan.

Ia melanjutkan uang yang dipegang pun bukan hanya uang yg ada di dompet, namun sering ia melihat orang kaya ini memegang “uang karetan” uang gebokan istilahnya dengan lembaran 50 rb atau 100 ribuan.

Sehingga lambat laun, mas Bambang ini banyak belajar dari orang orang kaya ini dalam perubahan pola pikirnya. Sehingga akhirnya dia memberanikan diri untuk wiraswasta.

Awal memulai usaha mas Bambang pun dikasih modal oleh mantan Juragan yang disopirinya untuk membeli sebuah blender. Ia mengingatnya berapa sih harga sebuah blender bahkan untuk membelinya ketika itu ia tidak mampu. Akhirnya ia memutuskan untuk jualan pentol disekitar pasar Turi.

Lambat laun usahanya berkembang dan membuka warung bakso, namun karena kurangnya keterampilan usaha warung baksonya ketika itu ditutup. Karena hobinya di dunia mekanik akhirnya dia mendirikan sebuah bengkel dengan modal yang minim.

Prinsip dan pola pikir yang diajarkan ” orang kaya” tadi dia pegang erat-erat. Ia tidak peduli terhadap omongan orang soal gaya hidup termasuk soal kepemilikan rumah, meskipun usaha bengkelnya terus berkembang dan mempekerjakan lebih dari 7 orang pegawai ia tetap hidup sederhana tinggal di kontrakan.Walaupun andaikan dia mau dia bisa membeli rumah sendiri.

Hasil dari usaha ia putar terus dan investasikan untuk usahanya, sehingga meskipun bengkelnya baru berusia 4 tahun, namun sudah cukup lengkap dan cepat perkembangan nya.

Bulan kemarin dia membuka usaha baru, yakni usaha lamanya yang dulu pernah ia tutup. Sebuah warung bakso dan mie ayam, tidak jauh dari tempat bengkel dia. Bahasa dia saya sama istri makan di usaha bakso ini. Maksudnya untuk kebutuhan sehari-hari konsumsi dia ambilkan dari usaha bakso, sehingga usaha bengkelnya bisa terus ia kembangkan.

Malam itu saya belajar banyak dari mas Bambang, seorang wirausaha yang tidak lahir dari workshop atau pelatihan bisnis. Namun belajar otodidak ketika ia menjadi sopir dari orang orang ” kaya beneran”.

Saya belajar banyak soal merintis sebuah usaha yang masih harus bernafas panjang dan berlari maraton. Memperkuat fundamental bisnis dan membangun mental kaya sesungguhnya. Bismillah bisa !

#zonabakaran
#umkm
#mentalkaya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *